Akhir pekan ini musim Formula 1 secara formal berakhir di pertengahan musim. 10 tim, 20 pembalap berlomba di cahaya daratan satu serupa lain di “kuil” suci untuk berlomba. “Kuil” disebut Spa-Francorchamps. Wilayah legendaris yang terdapat di sedang hutan bersama dengan pohon-pohon yang tinggi dan indah. Putaran Eau Rouge dan Radillon siap menyambut pembalap saat lampu merah mati dan putaran pertama digunakan. Acara real estat Belgia di sirkuit hari Minggu ini (26-06-2018) yang perlu kita tunggu-tunggu. Di antara 20 pembalap top dunia, ada 2 nama yang memperjuangkan gelar pembalap terbaik terbaik. Lewis Hamilton dan Sebastian Vettel siap saling menyikut untuk mengakhiri balapan di posisi terdepan. Kedua pembalap itu udah raih “Lantai 4” dalam kompetisi untuk menaiki tangga ke juara dunia Formula 1. Pertanyaannya adalah, siapa yang singgah pertama ke “Lantai 5” sehabis almarhum Juan Manuel Fangio?

Baik Hamilton dan Vettel pas ini berada di puncak karir mereka. Pada umur 33 untuk Hamilton dan 31 untuk Vettel, tidak ada alasan untuk menyerah satu serupa lain untuk membuktikan siapa yang terbaik dalam generasi mereka. Berdasarkan statistik yang ada, Lewis Hamilton pas ini pembalap F1 paling sukses dari Inggris dalam sejarah. 4 Piala Dunia dan 57 kemenangan sampai Grand Prix Hongaria jadi rekor perlu kemarin. Belum ulang bahwa ia pas ini punyai 77 kali rekor posisi pole tertinggi dalam histori Formula 1 dan dapat konsisten tumbuh. Lain ulang bersama dengan Hamilton, Sebastian Vettel, menyadari bukan pembalap Jerman paling sukses di F1 sejauh ini. Vettel, yang naik ke “Piala Dunia” di lantai 4, tidak dapat menyamai tingkat Michael Schumacher.

Schumacher pas ini duduki tahta permanen di “lantai 7”. Vettel, yang udah menyinkronkan ‘The Baby Schummer’, lebih dari setengahnya mengejar ketinggalan bersama dengan idola tersebut. 51 kemenangan udah didaftarkan. 40 menang di belakang legenda memenangkan perlombaan sebagai pembalap F1 bersama dengan kemenangan terbanyak dalam sejarah. Sekarang mereka berdua bertabrakan di jalur yang serupa untuk menaiki tangga Piala Dunia ke “lantai 5” di mana Juan Manuel Fangio berada. Persaingan udah memanas dalam dua musim terakhir.
Puncaknya adalah saat GP Azerbaijan 2017 di Baku Street Circuit, di mana Vettel menjadi bahwa Hamilton tiba-tiba melambat selama periode safety car, jadi dia menabrak pantat mobil Hamilton. Vettel, yang tidak menerima, terlampau marah dan mencoba memprotes saat ia “menyentuh” ​​ban untuk ban Hamilton. Insiden itu membuahkan denda untuk Vettel.

Musim ini menyadari bukan musim yang gampang juga. 2 balapan pertama di tahun 2018 dimenangkan oleh Vettel, pas Hamilton perlu tunggu seri ke-4 di Barcelona, ​​Spanyol untuk naik ke podium teratas. Kinerja dan kebahagiaan mengalami naik turun. Mereka berdua tidak dapat menang di balapan masing-masing. Vettel menang di Silverstone gara-gara Hamilton bermain di babak pertama pas Hamilton menang di Hockenheimring sehabis Vettel memimpin balapan gara-gara jalur basah. Mercedes dan Ferrari pas ini punyai mobil yang relatif sepadan dalam kinerja dan belum punyai mutu masing-masing. Setiap sirkuit punyai karakteristiknya sendiri dan di sinilah barangkali masing-masing mobil dapat berbeda. Baik Vettel dan Hamilton perlu dapat memaksimalkan kinerja jet negara mereka di tiap tiap seri yang tersisa.

Vettel tidak diragukan ulang dapat punyai keuntungan di sini, gara-gara ia perlu berjuang lebih keras bersama dengan mobil-mobil tidak terkemuka di tiap tiap balapan sejak gelar Piala Dunia terakhirnya terhadap 2013, supaya miliki kebiasaan bersama dengan situasi yang tidak nyaman. Lain halnya bersama dengan Hamilton, yang selalu punyai mobil terbaik di trek sejak 2014 dan musim ini kinerjanya cocok bersama dengan Ferrari. Dalam perjalanan ke GP Belgia Hamilton memimpin klasemen bersama dengan 213 poin, 24 poin terpisah dari Vettel di area kedua. Di antara mereka adalah duo Finlandia Kimi Raikkonen dan Valterri Bottas. Keduanya serupa sekali tidak barangkali mengancam posisi Vettel yang baik, tidak terkecuali Hamilton. Raikkonen bersama dengan Ferrari dan Bottas bersama dengan Mercedes tentu dapat dimainkan di lapangan untuk Vettel dan Hamilton.

Perlombaan “lantai 5” ditentukan oleh siapa yang secara mental lebih kuat dan siapa yang punyai lebih banyak keinginan di antara keduanya. Baja mental perlu jadi punya tiap tiap pembalap F1. Balapan sering mengalami nasib sial selama balapan. Selama jaman inilah pembalap perlu menerima situasi dan studi dari kekeliruan untuk jadi lebih baik, lebih-lebih tidak frustrasi untuk mengarah terhadap penurunan motivasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *