Saat sebelum Moto GP kehabisan wujud Valentino Rossi di sirkuit, publik lama- lama tetapi tentu mulai mengidentifikasi dalam lomba ini kalau Moto GP dengan kelas MotoGP- nya masih menyenangkan. Ini terpaut erat dengan kedatangan pengendara lebih muda dari Rossi yang teruji jadi salah satu yang terbaik. Kita tidak bisa menyangkal kehebatan Casey Stoner dengan Ducati serta Repsol Honda 2007 serta 2011 pada waktu itu. Kemudian terdapat pembalap Honda yang lebih lama bersama regu Repsol, Dani Pedrosa. Walaupun mereka belum sempat mencicipi Piala Dunia di kelas Kings, keberadaan pembalap ini senantiasa diperhitungkan di tiap masa balap.

Apalagi, konsistensi kinerja no 26 wajib jadi penghalang terbanyak, sehingga dia senantiasa sukses memenangkan emas di akhir masa, apalagi di masa yang berakhir tanpa hasil— seri kejuaraan. Tetapi pembalap Spanyol kecil itu masih layak diucap legenda sehabis pensiun. Tercatat kala performa Rossi yang menyusut tidak membuat regu Yamaha Factory kayaknya kehabisan no pemenang di tiap seri. Sebab terdapat pembalap hebat lain yang dipunyai oleh regu Fork Tala di Jorge Lorenzo. Pembalap itu, yang saat ini identik dengan no 99, kesimpulannya bisa membagikan 3 gelar dunia yang bisa dinikmati oleh Blue Camp Jepang.

Ketiga gelar tersebut pula jadi peringatan untuk Yamaha sehabis memburuknya kinerja sepeda motor, memforsir kedua pembalap buat pindah di masa 2016 sampai mereka kesimpulannya memerlukan Jorge Lorenzo bagaikan jangkar buat Ducati. Regu merah, yang setelah itu dilanjutkan di masa 2017 serta sekali lagi menampilkan kekokohan serta konsistensi dalam mencari kemenangan di masa 2018. 2 masa hebat dari Ducati buat menampilkan donasi kedatangan pengendara yang masih lumayan banyak di lapangan berdialog sehabis masa kejayaan oleh Valentino Rossi, yang mengirimkannya pas kepada pembalap Repsol Honda yang mengaku mengidolakan wujud eksentrik serta karismatik dari Italia. Benar, Marc Marquez hari ini merupakan pewaris kemenangan Valentino Rossi.

Keberadaan owner no 93 ini kesimpulannya jadi raja yang legal semenjak 2013, 2014 serta 3 masa berturut- turut sampai 2018. Maksudnya, cuma nama Jorge Lorenzo yang menghancurkan seri Piala Dunia The Baby Alien. Walaupun kejuaraan MotoGP pada kartu kompetisi sudah menyebar ke sebagian pembalap, tercantum Andrea Dovizioso, yang kesimpulannya hendak terungkap di masa ini 2017 serta 2018. Bertandem 3 kali dengan juara dunia, itu bukan lagi cuma balapan biasa- biasa saja dengan motor yang hebat. Seperti itu yang membuat Dovi layak buat dipertimbangkan nanti. Sebab ia bukan lagi pembalap biasa- biasa saja, namun pembalap yang tangguh serta siap merangkul juara dunia.

Namun kepergian ke tandem yang kokoh semacam Jorge Lorenzo pula meragukan kelanjutan serta penampilan mengesankan owner no 04 ini.” Bisakah aku kembali ke 2 paling atas ataupun tidak?” Apa yang ditunggu para ahli Moto GP pada 2019 merupakan:” Apa yang terjalin pada regu Repsol Honda dengan jadi anggota Jorge Lorenzo?” Keberadaan 2 pembalap Piala Dunia semenjak 2010- 2018* dalam satu regu pasti bukan suatu yang sempat terjalin di regu MotoGP tidak hanya Yamaha. Pasti saja Yamaha kesimpulannya dipahami oleh 2 juara dunia di garasi. Gimana dengan Honda? Bisakah Kamu memakai atap bagaikan cadangan buat 2 kepala ego besar buat senantiasa menang serta mencari kesempatan buat juara dunia dengan dimensi yang sama?

Menyaksikan fenomena Honda di masa 2019 semacam menyaksikan galaksi dengan 2 matahari. Luar biasa gimana kecerahan galaksi. Tetapi, wajib pula dipikirkan betapa panasnya dunia di Bima Sakti. Inilah yang hendak ditunggu publik. Pada dikala yang sama, regu Repsol Honda wajib melaksanakan persiapan yang matang supaya tidak mengecewakan kedua pembalap ini serta kurangi kinerja regu Jepang. Jangan hingga terdapat” drama di bilik kecil garasi 2 volume”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *